Cari Blog Ini

Memuat...

Formulir Order via Email

Nama

Email *

Pesan *

Home » » DIAM itu Adalah Eksistensi Dzat Allah Swt.

DIAM itu Adalah Eksistensi Dzat Allah Swt.

Written By M Imron Pribadi on Kamis, 11 November 2010 | 08.01



Bangkalan, 11 Nopember 2010 Pukul 07. 16 WIB
By : M Imron Pribadi
DIAM itu adalah eksistensi DzatNya, karena DzatNya hakekatnya diam membisu tidak bergerak seperti batu gunung yang bertapa, namun yang bergerak adalah nur al anwar alias nurNya alias nur Muhammad sama persis dengan  matahari yang tidak punya bayangan.Top of Form Jika ingin tahu syaratnya diam, maka coba perhatikan, coba bacalah, coba pahami dan rasakanlah
disaat tahu yg sebenarNya diamNya pasti akan kembali diam pada arsyNya yang abadi dalam ke wahdaniyahanNya.
Sejauh mana keyakinan kita pada ketetapan yang mengatakan bahwa "Yang Hidup hanyalah Allah" dan kita sebagai manusia hanyalah makhluk yang dihidupkan oleh "Yang Maha Hidup". Selama diri kita "merasa yang hidup" dan hidupnya itu terpisahkan dari "Yang Maha Hidup" maka tidaklah akan pernah dicapai apa yang dikatakan sebagai diri yang "Diam" dalam "Gerak dan diamNYA".
Sebagai jalan memberi mafhum pada pembelajaran mubtadi ungkapan – uangkapan dalam hal ini masih masih pro dan kontra dikalangan berbagai ulama. Namun jika dalam makna yang putus, maka itu banyak yang mengatakan sebuah ungkapan pernyataan Gegabah. Jadi ketika rasa Zauq itu sedang tidak ada pada materi yang sedang atau ingin di lempar dan lalu akan kelihatan olahan olahan  dari keterbatasan akal dimana pada akhirnya sepertinya sebuah akal – akalan yang sengaja diciptakan oleh logika berfikir saja dalam memakrifati DiamNya sebagai eksistensi DzatNya.
Diam itu adala DzasatNya dan yang bergerak adalah cahayaNya, demikian juga makna makna dari hakekat Diam itu sebagai bukti kita yang lagi menyelami sesuatu yg tidak bisa tersentuh ,namun juga mesti di suarakan sebagai pernyataan nya apa itu hakekat dan realitas DiamNya.

Eksistensi adalah hakekat Dia yg diam dalam DzatNya Allah swt itu lekat dalam DzatNya dan DzatNya sama persis dalam syariat dinul islam, kalau berbicara pada Takaran Syareat Nya Diam dan GerakNya, bukan porsi akal untuk memaknainya. Ternyata  akal butuh agama untuk wilayah itu.  Kalau tidak, maka terkesan semua itu hanyalah permainan logika yang sudah di nalarkan dalam berbagai  pemikiran pemikiran ketuhanan.
Ada sebagian golongan berpendapat bahwa  kalau masih ada nash/dalil agama semestinya akal jangan didahulukan dalam menafsirkan tentang DzatNya, jika tidak maka tuhan akan di akalkan dan sementara itu akal adalah masih sebatas mahluk ciptaanNya. 

Allah ber - inayah dan ber iradah tanpa pemahaman ini, maka "diam" akan lari pada madzab Platonis (putus) atau pada madzab Aristoteles, al Arobi (emanasi nurNya). Sehingga konsep pemikiran seperti ini terkesan sekedar permainan akal manusia saja karena kepintarannnya dalam menganalisa tuhan padahal yang bsebenarnya adalah merupakan kebodohan secara totalitas.


Share this post :

Poskan Komentar

Entri Populer